Halaman

Menggegas Peningkatan "Literacy Skills" Siswa Melalui Penggunaan Modifikasi Diagram Ishikawa Fishbone dalam Pembelajaran


Diagram Ishikawa Fishbone (Dok. Pribadi)

MASALAH


Akhir-akhir ini literasi menjadi kata yang sering kita dengar dan temukan di setiap denyut nadi kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa ini seolah baru terkejutkan dan tersadarkan dari tidur pulasnya tentang betapa literasi ini sangat penting sebagai pijakan dasar dari berbagai ilmu pengetahuan.  Padahal perintah untuk menguasai literasi ini sudah Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. melalui ayat Alquran yang pertama, yaitu Iqra.
Data Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) dan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis beberapa kali belakangan ini menunjukkan betapa rendahnya minat dan kemampuan literasi bangsa Indonesia, terutama dalam kemampuan membaca siswa. Laporan-laporan tersebut selalu menempatkan bangsa Indonesia di bawah bangsa-bangsa lain di dunia.
Dalam menyikapi laporan-laporan PIRLS dan PISA yang sangat memperihatinkan tersebut, pemerintah melalui Kemendikbud mengeluarkan Permendikbud RI Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Di dalam Permendikbud tersebut disebutkan bahwa salah satu kegiatan penumbuhan budi pekerti di sekolah  adalah melalui pembiasaan mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh yang salah satunya melalui kegiatan membaca buku selain buku mata pelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran.
Untuk menerjemahkan dan memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti yang tercantum dalam Permendikbud RI Nomor 23 tahun 2015, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Buku Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah (DIGLS). Di dalam buku DIGLS tersebut dipaparkan tentang Konsep Dasar Literasi dan Pelaksanaan Literasi di Sekolah.
Kemudian, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan aksi nyata untuk menerjemahkan program GLS ini secara praktis, terencana dan terukur melalui Dinas Pendidikan dengan mengeluarkan program West Java Leader’s Reading Challenge, atau yang disingkat dengan  WJLRC.
WJLRC merupakan tantangan membaca yang ditujukan bagi para guru dan siswa di sekolah dari para pemimpin di Jawa Barat. Pada tahun 2016 ini, yang menjadi penantangnya adalah Gubernur Jawa Barat dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang bekerja sama dengan South Australia Department for Education and Children Development.
Pada tahap awal penerapannya, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat memilih 600 SD dan 700 SMP dari kabupaten/kota se-Jawa Barat sebagai komunitas sekolah perintis literasi untuk mengikuti tantangan WJLRC ini.
SD Puri Artha Karawang terpilih menjadi salah satu sekolah perintis komunitas literasi jenjang SD ini. Kemudian penulis dan Kepala Sekolah mengikuti Workshop GLS-WJLRC yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tanggal 18 s.d. 20 Agustus 2016.
Program WJLRC ini masih dilaksanakan secara bertahap dan terbatas, baik jumlah sekolah maupun jumlah siswa setiap sekolah yang mengikuti proram ini. Jumlah maksimal siswa yang boleh mengikuti program ini adalah 40 orang. Kemudian SD Puri Artha memutuskan memilih 20 orang siswa perintis dari kelas IV dan V untuk mengikuti tantangan WJLRC ini. 20 orang siswa tersebut dibagi ke dalam empat kelompok. Sehingga masing-masing kelompok terdiri atas lima orang siswa. Untuk membimbing dan mendampingi keempat kelompok tersebut, empat guru perintis telah disiapkan. Dengan demikian, di kelas yang penulis pegang, hanya ada 5 orang yang dipilih mengikuti program ini.   
Kemudian, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, kegiatan WJLRC dimulai secara resmi pada tanggal 1 September 2016.
Program WJLRC masuk pada tahapan ke-2 pelaksanaan GLS, yaitu Pengembangan, yang diprogramkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara itu, tahapan pelaksanaan GLS meliputi 3 tahapan, yaitu Tahap 1 Pembiasaan, Tahap 2 Pengembangan, dan Tahap 3 Pembelajaran.
Dalam perjalanannya, penulis mempunyai pemikiran untuk mengakselerasi keberhasilan program ini dengan cara menerapkan salah satu kegiatan WJLRC ke dalam tahap terakhir pelaksanaan GLS, yaitu Pembelajaran. Penulis ingin menggegas peningkatan minat dan keterampilan literasi siswa melalui penggunaan modifikasi diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajran.




PEMBAHASAN DAN SOLUSI


Menurut pandangan umum selama ini, literasi dimaknai sebagai aktivitas membaca dan menulis. Pengertian literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.  Sementara itu, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomukasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003 dalam Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, 2016).
Oleh karena itu, penumbuhan literasi semenjak dini sangat penting dan harus diupayakan semaksimal mungkin sebagai landasan dari berbagai penguasaan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.
Sebagaimana telah disampaikan pada bagian perumusan masalah di atas, bahwa ada beberapa laporan tentang keterampilan literasi bangsa Indonesia yang begitu memperihatinkan. Misalnya dalam hal literasi membaca yang mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan, laporan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2011, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta. Dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012 dalam Panduan GLS di SD, 2016).
Sementara itu, dalam Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009 peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dari 65 negara dengan skor 396 dari rata-rata skor 493. Sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dari 65 negara dengan skor 396 dari rata-rata skor 496 (OECD, 2013 dalam Panduan GLS di SD, 2016).
Data PIRLS dan PISA tersebut di atas menunjukkan bahwa kemampuan literasi bangsa Indonesia, terutama dalam hal keterampilan memahami bacaan masih sangat rendah.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggulirkan program Gerakan Literasi Sekolah atau yang disingkat dengan GLS.
Di dalam menerjemahkan program GLS dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini ke dalam tataran yang lebih praktis dan terukur, berbagai daerah sedang dan telah melakukan terobosan-terobosan untuk mempercepat terciptanya budaya literasi di kalangan masyarakat, terutama di kalangan dunia pendidikan.
Demikian juga Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mempunyai program kegiatan peningkatan budaya literasi, yaitu West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC). WJLRC merupakan upaya menumbuhkan minat baca dan tulis melalui tantangan membaca buku minimal 24 buah dalam waktu 10 bulan. Wujud kegiatan WJLRC adalah terbentuknya yang melakukan aktivitas membaca (buku non pelajaran), menulis (membuat reviu), dan dialog secara terprogram di luar jam pelajaran (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat: 2016).
Program WJLRC masuk pada tahapan ke-2 pelaksanaan GLS, yaitu Pengembangan, yang diprogramkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagaimana disebutkan di dalam Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ada tiga tahapan pelaksanaan GLS, yaitu Tahap 1 Pembiasaan, Tahap 2 Pengembangan, dan Tahap 3 Pembelajaran (Dinas Pendidikan Jawa Barat, 2016:27).
SD Puri Artha telah dipilih 20 orang siswa perintis literasi untuk mengikuti tantangan WJLRC. 20 orang siswa tersebut diambil dari kelas IVA, IVB, VA, dan VB, sehingga perkelas diambil 5 orang siswa perintis literasi. Di kelas yang penulis pegang ada 5 orang siswa yang menjadi perintis literasi.
Di dalam aktivitas mereviu ada empat bentuk reviu dalam kegiatan WJLRC, yaitu diagram Ishikawa Fishbone, Paragraf AIH, Y Chart, dan Infografis.
Pada tiga bulan pertama (September s.d. November 2016), anak-anak perintis melakukan reviu dengan menggunakan diagram Ishikawa Fishbone.
Diagram Ishikawa Fishbone adalah diagram yang menunjukkan dari sebuah even yang spesifik. Diagram ini pertama kali diperkenalkan oleh Kaoru Ishikawa pada tahun 1968. Pada mulanya dipakai untuk mencegah defek serta mengembangkan kualitas produk. Diagram ini dapat membantu mengidentifikasi factor-faktor yang signifikan memberi efek terhadap sebuah even (Wikipedia).
Di dalam kegiatan WJLRC digunakan diagram Ishikawa Fishbone yang telah dimodifikasi bentuk dan bagian-bagiannya. Adapun gambar diagram Ishikawa Fishbone yang dimodifikasi ini adalah sebagai berikut.


Diagram Ishikawa Fishbone (Dok. Pribadi)

Modifikasi diagram Ishikawa Fishbone ini digunakan sebagai media untuk mereviu buku yang telah dibaca anak-anak perintis literasi di Jawa Barat.  
Berdasarkan observasi dan evaluasi yang dilakukan terhadap 20 orang siswa perintis ini, ditemukan bahwa diagram Ishikawa Fishbone cukup menarik dan efektif untuk meningkatkan minat dan kemampuan baca tulis siswa. Hal ini bisa dilihat dari dokumen-dokumen yang merekam segala kegiatan mereka dalam mengikuti tantangan WJLRC ini.
Oleh karena itu, penulis telah mencoba menerapkan penggunaan diagram Ishikawa Fishbone ini pada seluruh siswa kelas VB yang penulis pegang. Di kelas VB terdapat 34 orang yang terdiri dari 14 orang siswa dan 20 orang siswi.
Penerapan diagram Ishikawa Fishbone ini dilakukan pada pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia pada hari Kamis, 13 Oktober 2016 dengan materi mengidentifikasi unsur cerita. Adapun cerita yang dipakai dalam pembelajaran ini berjudul Kabayan Penegak Kejujuran karya penulis sendiri. 
Proses pembelajaran berjalan menggunakan kurikulum 2006. Hal ini dikarenakan pada kelas VB SD Puri Artha masih berlaku  Kurikulum 2006. Pada kegiatan inti pembelajaran anak-anak membaca teks yang sudah disediakan. Kemudian mereka diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia berdasarkan teks. Setelah itu Mereka mengisi diagram Ishikawa Fishbone untuk mengidentifikasi judul/tema, alur, latar, tokoh dan amanat dari teks tersebut.
Dari kegiatan-kegiatan pembelajaran tersebut didapat data nilai sebagai berikut.

Table 1
No
Nama Siswa
Nilai
Essay
Diagram Ishikawa Fishbone
1
AYS
 90
94
2
AK
100
100
3
ANTK
90
88
4
AT
100
81
5
ARP
100
94
6
ANA
50
81
7
ADD
90
100
8
ASL
100
100
9
APR
90
88
10
AMP
100
94
11
DGR
90
81
12
DTR
90
88
13
ERR
80
75
14
ESP
100
88
15
FAS
100
88
16
FTA
100
88
17
JCAS
70
88
18
MAZP
100
81
19
MBD
90
94
20
MAV
100
94
21
MDJ
90
88
22
MYBR
90
88
23
MHRE
100
100
24
MINR
80
88
25
NKA
80
94
26
NDD
100
94
27
NRR
90
94
28
NSH
80
88
29
PDGU
70
94
30
PZY
90
88
31
RSP
90
88
32
SSR
100
88
33
WKR
90
94
34
ZVA
70
94
RATA-RATA
90
90

Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata yang didapatkan oleh siswa yaitu 90 untuk nilai essay dan 90 untuk nilai diagram Ishikawa Fishbone. Hal ini jauh lebih tinggi dari KKM bahasa Indonesia yang telah ditentukan, yaitu 79.
Selain kegiatan di atas, penulis juga meminta anak-anak mengisi angket motivasi dan minat siswa terhadap penerapan diagram Ishikawa Fishbone. Hasil dari angket tersebut, penulis sajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 2
No
Pernyataan
Sangat Setuju
Setuju
Kurang Setuju
Tidak Setuju
Jumlah
1
Saya merasa puas dengan penerapan diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran
18 orang
16 orang
0
0
34 orang
2
Pembelajaran dengan menggunakan diagram Ishikawa Fishbone dalam memahami sebuah cerita sangat menarik
20 orang
14 orang
0
0
34 orang
3
Diagram Ishikawa Fishbone mempermudah saya untuk memahami unsur-unsur cerita
24 orang
10 orang
0
0
34 orang
4
Diagram Ishikawa Fishbone dapat memotivasi saya untuk gemar membaca.
25 orang
8 orang
1 orang
0
34 orang
5
Diagram Ishikawa Fishbone dapat memotivasi saya untuk gemar menulis.
16 orang
15 orang
3 orang
0
34 orang
6
Diagram Ishikawa Fishbone membuat saya lebih semangat untuk belajar.
22 orang
12 orang
0
0
34 orang

Berdasarkan Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 18 orang siswa (52,9%) menyatakan sangat setuju dan 16 orang siswa (47,1%) menyatakan setuju bahwa mereka merasa puas dengan penerapan diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran. Sementara itu, tidak ada satu orang pun yang menyatakan kurang setuju dan tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Sebanyak 20 orang siswa (58,8%) menyatakan sangat setuju dan 14 orang siswa (41,2%) menyatakan setuju bahwa pembelajaran dengan menggunakan diagram Ishikawa Fishbone dalam memahami sebuah cerita sangat menarik. Tidak ada satu orang pun yang menyatakan kurang setuju dan tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Sebanyak 24 orang siswa (70,6%) menyatakan sangat setuju dan 10 orang siswa (29,4%) menyatakan setuju bahwa Diagram Ishikawa Fishbone mempermudah saya untuk memahami unsur-unsur cerita. Tidak ada satu orang pun yang menyatakan kurang setuju dan tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Sebanyak 25 orang siswa (73,5%) menyatakan sangat setuju dan 8 orang siswa (23,5%) menyatakan setuju bahwa Diagram Ishikawa Fishbone dapat memotivasi saya untuk gemar membaca. Sementara itu, hanya satu orang (3 %) yang menyatakan kurang setuju dan tidak ada satu orang pun tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Sebanyak 16 orang siswa (47,1%) menyatakan sangat setuju dan 15 orang siswa (44,1%) menyatakan setuju bahwa Diagram Ishikawa Fishbone dapat memotivasi saya untuk gemar menulis. Sementara itu, hanya tiga orang (8,8 %) yang menyatakan kurang setuju dan tidak ada satu orang pun tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Sebanyak 22 orang siswa (64,7%) menyatakan sangat setuju dan 12 orang siswa (35,3%) menyatakan setuju bahwa diagram Ishikawa Fishbone membuat saya lebih semangat untuk belajar. Sementara itu, tidak ada satu orang pun yang kurang setuju dan tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Berdasarkan data-data tersebut, para siswa mempunyai motivasi dan minat yang sangat tinggi terhadap penggunaan modifikasi diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi tentang mengidentifikasi unsur cerita. Hal ini berimplikasi terhadap peningkatan minat dan motivasi dalam membaca dan kemampuan menulis serta belajar siswa.

KESIMPULAN DAN HARAPAN


Berdasarkan pembahasan dan solusi di atas, kiranya dapat ditarik beberapa kesimpulan penting sebagai berikut:
1.     Penguasaan dan peningkatan literasi sangat penting dalam menguasai berbagai ilmu pengetahuan.
2.     Penerapan diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi mengidentifikasi unsur cerita.
3.     Penerapan diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat baca siswa.
4.     Penerapan diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa.
5.     Penerapan diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.

Akhirnya, penulis berharap penerapan diagram Ishikawa Fishbone dalam pembelajaran dapat menjadi alternatif dalam upaya mempercepat penumbuhan minat baca dan peningkatan kemampuan menulis siswa.  Selain itu, penulis berharap diagram Ishikawa Fishbone dapat berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan dan budaya literasi bangsa Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA


Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (2016). Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah. Bandung: Provinsi Jawa Barat

Dirjen Dikdasmen. (2016). Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Dirjen Dikdasmen. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Republik Indonesia. (2015). Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Jakarta: Sekretariat Negara

Wikipedia. Diagram Ishikawa. Online.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Diagram_Ishikawa



Untuk mengunduh file karya tulis ini, silakan klik DISINI.


8 Responses to "Menggegas Peningkatan "Literacy Skills" Siswa Melalui Penggunaan Modifikasi Diagram Ishikawa Fishbone dalam Pembelajaran "

  1. Selamat...Pak Cecep Gaos, Tulisannya sangat menginspirasi bagi kita. Keren dan Mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Bu Sri 🙏🙏
      Semoga bermanfaat...

      Delete
  2. Pacepga, selalu menginspirasi. Hoyong menerapkan di sakola abdi, mung ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hatur nuhun...
      Hayu bu cobi terapkeun. Cobi Ka berbagai mapel sareng materi...

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel