Halaman

Menyusuri Jejak Sejarah Situs Tradisi Megalitik Gunung Padang Cianjur


Dok. Pribadi

Menyusuri Jejak Sejarah Situs Tradisi Megalitik Gunung Padang Cianjur
Oleh: Cecep Gaos

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 dan 4 Januari 2019, kami melakukan tadabur alam ke beberapa lokasi di Bandung, Cianjur, dan Sukabumi. Salah satunya yaitu ke Situs Tradisi Megalitik Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat.  
Rombongan Tadabur Alam Yayasan Puri Artha (Dok. Panitia)

Karena jalan untuk mencapai lokasi tidak memungkinkan dilalui oleh bus, maka kemudian kami diangkut oleh beberapa angkot yang sudah menunggu di sebuah lokasi yang sudah ditentukan sebelumnya.

Perjalanan ke Situs Tradisi Megalitik Gunung Padang pun akhirnya dimulai ketika kami semua sudah siap berada di dalam angkot masing-masing. Wajah-wajah kami terlihat semakin senang dan bersemangat ketika angkot-angkot yang kami tumpangi mulai menyusuri jalanan pegunungan yang berliku dan menanjak menuju lokasi.

Setelah sekitar 45 menit, akhirnya kami tiba di lokasi parkir sebagai titik awal melakukan pendakian menuju situs tersebut. Untuk mencapai lokasi situs ini, kami harus mendaki karena posisinya berada di atas gunung. Ada dua pilihan jalur pendakian untuk bisa tiba di sana, yaitu melalui tangga curam atau tangga landai. Jarak melalui tangga curam yaitu sekitar 175 meter, sedangkan melalui tangga landai sekitar 300 meter. Tentu saja kedua pilihan ini mempunyai sensasi dan tantangannya masing-masing.
Tangga menuju situs (Dok. Pribadi)

Bagi yang ingin cepat tiba di tujuan, tentu saja harus melalui tangga curam, namun kemiringannya cukup tajam. Tentu saja ini sangat melelahkan. Bagi yang tidak cukup kuat, tangga landai bisa menjadi pilihan. Tetapi tentu saja dengan jarak yang hampir dua kali lipat lebih jauh, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi pun lebih lama.

Beberapa dari kami ada yang memilih tangga curam, ada juga yang memilih tangga landai. Saya sendiri memutuskan untuk memilih tangga curam untuk mencapai situs tersebut. Betul saja, tangga curam ini memang sangat menguras tenaga. Napas saya tersengal-sengal, dan lutut pun terasa pegal. Tetapi ada sensasi tersendiri yang saya rasakan. Anak tangga-anak tangga yang terbuat dari bongkahan batu yang saya titi di jalur tangga curam, konon katanya merupakan anak tangga asli buatan para nenek moyang.

Saya tidak sempat menghitung berapa lama waktu yang saya habiskan untuk sampai di lokasi situs. Rasa capek dan lelah pun akhirnya terbayar dengan luar biasanya karya nenek moyang kita dan indahnya hamparan pegunungan yang mengelilingi situs ini.

Di lokasi situs, kami di arahkan ke beberapa bagian situs sambil mendapatkan penjelasan dari juru pelihara situs. Dijelaskan bahwa situs megalitik gunung padang ini sudah tercatat sejak tahun 1914 oleh seorang Belanda yang sayangnya saya tidak  mendengar dengan jelas siapa namanya. Kemudian dilaporkan oleh masyarakat sekitar pada tahun 1979 kepada dinas terkait. Setelah pelaporan itulah kemudian dilakukan pembersihan karena tertutup hutan belantara dan belukar. Pembersihan ini dilakukan hingga tahun 1985.

Lebih lanjut dijelaskan, situs ini diperkirakan sudah ada sejak 25.000 tahun SM. Lalu dijelaskan bahwa arti dari Gunung Padang ada dua versi. Yang pertama, bahwa Gunung Padang itu berasal dari kata Padahiang, yang artinya tempat pertemuan orang-orang suci. Yang kedua, diartikan sebagai gunung yang terang, yang bersinar, dan yang bercahaya.

Kemudian dijelaskan juga bahwa situs ini memiliki lima teras atau undakan (tingkat). Di teras pertama ada Aula, Batu Musik, dan Batu Domen (penduduk lokal menyebutnya Batu Gong), dan Batu Gamelan. Batu-batu ini jika dipukul mengeluarkan suara yang nyaring berdengung seperti sebuah alat musik pukul gong.
Aula (Dok. Pribadi)

Batu Musik (Dok. Pribadi)
Kemudian di teras kedua terdapat Batu Kursi, Batu Lumbung, dan Batu Tapak Kaki. 
Batu Tapak Kaki (Dok. Pribadi)
Lalu di teras ketiga terdapat Batu Gambar Kujang dan Batu Tapak Maung (Telapak Harimau). Setelah itu, di teras keempat terdapat Batu Kanuragan. Batu kanuragan ini biasa dipakai untuk menguji kekuatan. 
Batu Kanuragan (Dok. Pribadi)
Lalu di teras terakhir, yaitu di teras kelima terdapat Batu Pandaringan (tempat bersandar) dan Batu Singgasana Raja.
Batu Pandaringan (Dok. Pribadi)
Batu Singgasana Raja (Dok. Pribadi)
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tempat ini pernah menjadi satu tempat petilasan atau pernah digunakan pada zaman Prabu Siliwangi atau Pajajaran. Namun, sampai saat ini belum ada yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun batu-batu tersebut, meskipun beberapa waktu yang lalu berbagai ilmuwan atau sejarawan datang untuk meneliti. Selain itu belum diketahui kapan tepatnya situs ini dibangun karena tidak ada prasasti, huruf, arca atau semacamnya yang dapat menjelaskan akan hal itu. Namun beberapa ilmuwan mengatakan bahwa situs ini sudah mulai dibangun pada zaman animisme dan dinamisme.

Hal yang unik dari situs tradisi megalitik Gunung Padang ini yaitu serba lima. Yang pertama, struktur bangunan ada lima undakan (tingkatan). Lalu kalau diperhatikan, sudut batu-batunya kebanyakan mempunyai lima sudut. Kemudian, keunikan lainnya adalah bahwa situs ini dikelilingi oleh lima gunung, salah satunya adalah Gunung Gede Pangrango.

Fungsi situs ini menurut masyarakat sekitar yaitu kemungkinan besar dipakai sebagai tempat bermusyawarah atau berkumpul dan juga sebagai tempat bertapa, peribadatan atau ritual.
Gunung Masigit/Musholla (Dok. Pribadi)
Akhirnya, setelah sekitar sejam mengunjungi lima teras Gunung Padang dan mendapatkan penjelasan, kami pun pamit untuk turun dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan yang lain. Kali ini saya bersama beberapa rekan mengambil jalur tangga yang landai. Anak tangga-anak tangga pada jalur ini sepertinya merupakan anak tangga buatan dari coran batu, pasir dan semen.

Itulah sekilas tentang penyusuran jejak sejarah Situs Tradisi Megalitik Gunung Padang yang kelestariannya harus kita jaga karena merupakan salah satu warisan budaya bangsa kita. Situs ini merupakan salah satu bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa besar yang mempunyai nilai-nilai budaya yang tinggi yang patut kita syukuri dan banggakan. Wallahu a’lam. []

5 Responses to "Menyusuri Jejak Sejarah Situs Tradisi Megalitik Gunung Padang Cianjur"

  1. Inspiratif pacepga ... berkali-kali niat ingin ke sana, berkali-kali pula ga pernah jadi

    ReplyDelete
  2. Terima kasih...
    Ayo Bu kesana 💪💪

    ReplyDelete
  3. Although it is generally accepted that internet poker is the same as live poker, and you are excellent in live play while struggling online may indicate that the problem is in the programs and players more than your game. situs bandarq

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel